Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta; Sebuah Ulasan

Masa-masa sekolah menjadi pengalaman yang biasanya paling dirindukan oleh sebagian besar dari kita. Menginjak remaja kita mulai berkenalan pada banyak hal. Satu persatu masalah muncul dalam hidup, entah baik atau buruk. Seperti merasakan kecintaan terhadap sesuatu karena hormon yang mulai berubah. Romansa masa remaja mungkin menjadi salah satu hal yang tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan.

Di tahun 2013, Mouly Surya menghadirkan cerita soal percintaan itu melalui film berjdudul What They Don’t Talk About When They Talk About Love (Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta). Dari segi judul, film ini mungkin akan membuat kita bertanya, kisah cinta seperti apa yang hendak Mouly Surya sampaikan melalui judul yang panjang itu?

Pertanyaan tersebut sedikit demi sedikit mulai terjawab ketika di awal film saya menyaksikan anak-anak sekolahan lengkap dengan seragamnya menyanyikan lagu Burung Camar milik Vina Panduwinata. Di atas trampolin kita juga akan disuguhkan sebuah adegan di mana Ayushita dan Karina Salim menyanyikan lagu yang sama bersama teman-teman mereka. Dapat dipastikan bahwa kisah cinta yang berlatar di sekolah luar biasa (SLB) ini bukan kisah cinta yang biasa. Adegan di awal film membuat saya berhipotesis bahwa alur film mungkin akan sekompleks judul yang Mouly Surya coba sematkan pada kisah cinta anak sekolahan ini.

Mouly Surya membawa sudut pandang yang berbeda melalui film ini, meski sebenarnya premis yang dihadirkan cukup sederhana, yaitu tentang kisah cinta anak sekolahan yang di dalamnya dihiasi gejolak-gejolak yang umumnya sulit dibendung. Bedanya, pengalaman cinta dan gejolak yang muncul dirasakan oleh Fitri seorang tuna netra yang diperankan oleh Ayushita dan sahabatnya Diana (Karina Salim) yang menderita miopi sehingga menyebabkan dirinya hanya memiliki jarang pandang sejauh 2 cm.

Meski benang utama dari film ini adalah kisah cinta remaja, namun sebenarnya banyak detail-detail yang coba disampaikan Mouly Surya tentang keseharian kawan-kawan difabel. Sepanjang film kita dihadapkan pada kenyataan baru, bahwa begitulah kehidupan kawan-kawan difabel berlangsung. Mulai dari adegan seorang murid baru yang memakai tongkat untuk membantu arah jalannya, kaos kaki Diana yang berbeda motif, serta detail-detail lain seperti ketika Diana harus menghitung sampai seratus kali agar rambutnya tersisir dengan rapi.

Meski menjalani keseharian yang berbeda, bukan berarti tokoh-tokoh ini tidak berhak untuk merayakan cinta. Mungkin itulah yang coba disampaikan oleh Mouly Surya melalui film ini. Dimulai dari Diana yang tertarik dengan anak baru di sekolahnya, Diana mencoba melakukan segala hal untuk menarik perhatian Andhika, lelaki yang selalu memakai kacamata, topi dan tongkat di tangan. Berbeda dengan Fitri yang sudah berpacaran dengan seorang pria dan dapat dikatakan aktif secara seksual. Meski dalam sebuah adegan seksual dengan pacarnya, saya merasa Fitri tidak menemukan kenyamanan itu. Melalui lubang kunci, seorang laki-laki punk-rock yang tuli bernama Edo menyaksikan bagaimana Fitri berhubungan seksual dengan pacarnya. Kedua mata mereka saling menatap. Melalui lubang kunci itu perjalanan cinta keduanya mulai dirajut.

Alur yang terkesan lambat cenderung membuat saya penasaran, bagaimana keduanya akan memadu kasih. Bagaimana komunikasi antara keduanya terjalin? Mouly Surya tentu sudah mengingatkan kita di awal, melalui judul filmnya yang panjang ia menyajikan kisah cinta tak biasa. Tentang segala sesuatu yang tidak dibicarakan kedua tokoh ketika mereka membicarakan cinta.

Kedua tokoh yang sedang kasmaran memanfaatkan kemampuannya untuk mengetahui satu sama lain, dimulai dengan Edo yang selalu menunggu kiriman surat dari Fitri di kolam renang tempat mereka biasa bertemu. Tidak ada kata-kata, tidak ada sentuhan, bahkan Fitri tidak pernah tahu bagaimana rupa Edo, seorang pria yang ia anggap sebagai Hantu Dokter karena imajinasinya terhadap cerita-cerita hantu. Hanya melalui surat, kisah cinta itu menjadi menggebu-gebu.

Dalam memperjuangkan cinta, segala sesuatunya dilakukan. Edo yang tuli mencoba memahami apa yang disampaikan Fitri dalam suratnya dengan mempelajari huruf-huruf braille. Segala ketidakmungkinan yang kita pikirkan selama ini tentang kawan-kawan difabel dibuat menjadi mungkin dalam film ini dengan merubah cara pikir kita. Justru, Mouly Surya ingin menekankan bahwa inklusifitas itu penting. Terbukti dari adegan saat Edo sedang membeli rokok, namun pegawai supermarket tersebut tidak mengerti apa yang Edo inginkan. Pegawai supermarket akhirnya menyodorkan sebuah kertas, dan rokok Marlboro itu akhirnya terbeli.

Meski menghadirkan premis sederhana, Mouly Surya dengan sangat apik membangun perspektif baru yang kompleks bagi penontonnya. Pengalaman tentang cinta yang berbeda ini justru menghadirkan kesan mendalam. Ia percaya bahwa pengalaman merasakan cinta tidak melulu didapat melalui kata-kata puitis atau hadiah-hadiah mahal. Cinta justru dapat tumbuh dari hal sederhana, sesederhana bau parfum Diana yang membuat Andhika meliriknya, dari hadiah sederhana dan sentuhan yang Edo berikan ketika ia tak mampu berucap kata romantis.

Mouly Surya menyadari bahwa kaum difabel adalah mereka yang rentan, aksesibilitas mereka terhadap sesuatu tentu sangat minim. Dalam film ini banyak ditampilkan hal-hal yang membuat kita tersentak, momen saat Fitri menyanyikan lagu Pergi Belajar disaksikan oleh Edo yang mencoba mencari tahu apa yang dinyanyikan Fitri melalui gerak bibir dan menerjemahkannya melalui bahasa isyarat yang ia pelajari.

Foto: https://usa.newonnetflix.info/info/70268469

Selain kemandirian tokohnya di tengah aksesibilitas mereka yang minim, film ini juga menghadirkan dark comedy. Seperti saat Fitri berandai-andai kalau saja ia bisa melihat dan Edo bisa berbicara, maka keduanya mungkin sudah jatuh cinta sejak lama. Atau justru cinta mereka akan menghilang ketika melihat kontrakan lusuh yang mereka tinggali. Asumsi.co juga memaparkan lima film Indonesia yang ditayangkan di Festival Film Locano 5–15 Agustus 2020, salah satunya adalah film What They Don’t Talk About When They Talk About Love ini.

What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013)|Sutradara: Mouly Surya|Produser: Rama Adi|Pemeran: Nicholas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Anggun Priambodo, Lupita Jenifer.

Menulis membuatku hidup.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store