Jugun Ianfu: Potret Kemerdekaan yang Terlupakan

Di tengah rumitnya segala hal yang kita alami beberapa bulan ke belakang, dalam kacaunya kehidupan akibat pandemi dan penanganannya yang semrawut, di tengah desas-desus NKRI seharga tujuh ratus juta rupiah dibayar tunai, pun di antara perayaan kemerdekaan dan segala tetek bengeknya yang belum selesai—nyatanya kita tidak pernah lepas dari ‘ketidakmerdekaan’.

Di beranda twitter sore ini ada satu hal yang mungkin luput dari benak kita. Seorang jurnalis membuat cuitan tentang peringatan Jugun Ianfu Internasional. Mestinya saya juga harus malu, mungkin saya tidak akan pernah tahu apa dan mengapa hari ini orang-orang memperingati hari ini sebagai peringatan Jugun Ianfu Internasional. Melalui lukisan Dewi Candraningrum tentang perempuan survivor, saya mulai tahu bahwa penyintas pemerkosaan yang dilakukan dengan keji oleh tentara Jepang masih memperjuangkan haknya dari pemerintah Jepang dan Indonesia.

Jugun Ianfu adalah perempuan penghibur yang diambil secara paksa oleh tentara Jepang pada masa Perang Dunia II [1]. Semua wilayah yang ditaklukkan Jepang saat itu (termasuk Indonesia) menjadi ladang untuk tentara Jepang mengambil paksa perempuan-perempuan ini. Jugun Ianfu diperkosa secara keji dan diperlakukan tak manusiawi. Beberapa Ianfu harus menghembuskan nafasnya di Ianjo (rumah tahanan), sementara beberapa orang lainnya mampu menyelamatkan diri dan bertahan.

Meski berhasil sintas dari kekejian tentara Jepang, hidup Ianfu di Indonesia tidak semata-mata terjamin—stigma yang melekat membuatnya dikucilkan di tengah masyarakat. Kemerdekaan yang selama ini kita ‘raih’ seolah menjadi gambaran yang paradoks, sebab kemerdekaan tersebut tidak diperoleh oleh penyintas Ianfu. Di hari tuanya mereka masih harus menanggung beban finansial dan anggapan buruk orang-orang terhadapnya, ditambah trauma fisik dan psikis yang sulit untuk disembuhkan.

Melalui aktivisme seninya, Dewi Candraningrum melukis para penyintas dan beberapa kali mengunjungi Ianfu yang tinggal di sekitaran Jawa Tengah. Lukisan tersebut juga dijadikan scarf dan disebarluaskan sebagai sikap politisnya dalam mendukung perjuangan Ianfu. Dirinya menganggap bahwa lukisan yang ia buat adalah sebuah dokumen yang dapat berbicara dengan sendirinya. Hingga saat ini, telah banyak Ianfu yang berguguran. Lukisan Dewi Candraningrum setidaknya menjadi arsip keberadaan penyintas Ianfu ini.

Beberapa lukisan perempuan Ianfu karya Dewi Candraningrum di Jejer Wadon Arts Space (dok. penulis)

Barangkali, Dewi Candraningrum (bagi saya) menjadi orang yang berjasa karena telah mengenalkan dan ‘mengusik’ kenyamanan saya selama ini, ia mengenalkan bagaimana para pejuang perempuan ini harus sintas dalam dunia yang patriarkis—pertama, mereka harus melawan kekejian tentara Jepang, kemudian di hari tuanya mereka harus berjuang menuntut haknya pada pemerintah Indonesia dan Jepang untuk mendukung dan mengakui kesalahan yang telah dibuat tentara Jepang di masa lalu.

Minimnya pengetahuan kita tentang Ianfu merujuk pada ketakutan ‘kita’ atas hal-hal yang belum selesai di masa lalu. Mungkin tak banyak yang dapat kita selidiki, sebab begitu kecilnya ruang yang diberikan bagi penyintas untuk dapat bersuara, minimnya pengetahuan dan sejarah yang diceritakan selama ini menjadi faktor bagaimana kemerdekaan justru luput di tengah-tengah kehidupan Ianfu. Barangkali, api itu harus dihidupkan lagi, cerita harus terus digaungkan, aktivisme dan arsip sejarah harus terus dihidupkan agar kepergian Ianfu tidak membuat kita pura-pura lupa dan dengan begitu saja menghapus sejarah kelam yang pernah ada.

Referensi:

(ed)__. “Ianfu” Indonesia. https://ianfuindonesia.webs.com/. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2020.

(ed). 2019. Dewi Candraningrum. https://www.fashionforwords.com/merchandisesuvenir/dewicandraningrum. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2020.

Wuri, DN. 2020. Rukmini. https://www.intersastra.com/fiksifiction/rukmini. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2020.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store